Cindy Rehabilitation: One Week With SS2

Ketika Cindy harus di simpan sejenak dirumah bro Seno ( thanks bro sudah ngerepotin garasinya jadi tempat parkir sementara Cindy)  karena menunggu spare parts dan waktu luang untuk di opname di bengkel press sasis, gw dipinjamkan oleh Om Torry motor P220nya ( kembali lagi berterimakasih kepada om Torry sudah banyak bantu).

P220nya om Torry dinamakan SS2, karena SS1 adalah mobilnya dia yang juga berwarna silver. Dalam hari pertama memakai SS2 gw masih mencoba beradaptasi dengan karakternya, ya SS2 memiliki karakter yang berbeda dengan Cindy. Jika memakai Cindy ngegasnya harus di urut supaya bisa berakselerasi, sedangkan dengan SS2 dengan membuka gas besar besar motor pun akan melesat dengan cepat, terutama jika melewati RPM 6000 jarum RPM cepat sekali mencapai angka 11000.

Pada hari ke-2 Gw sudah mulai terbiasa dengan treatment cara bawa SS2, di hari yang sama pun gw menanyakan spesifikasi SS2, dan langsung dibalas dengan cepat, spesifikasi sebagai berikut:

SS2 (mesin standar) :

– koil Andrion 5A (kiri & kanan)
– busi NGK CR8EIX iridium (kiri & kanan)
– air filter element Protec
– PJ 17,5 (Scorpio) MJ 125 (Satria FU)
– clip jarum skep dimodif oleh mas Londo Trb
– knalpot Abbys power bomb, linear torque, chromeini
– oil breather system (obs)

Ternyata masih standar blum porting polish, nah untuk piranti piranti yang terpasang tersebut beliau juga punya cerita tersendiri kenapa bisa terpasang di SS2.

Tentang koil, awalnya menggunakan koil “X” yg cukup terkenal dengan video yg menunjukkan besar api yg dihasilkan pada busi, dibandingkan dengan beberapa koil lain. Namun ternyata ada hasil dyno dari seorang teman yg menunjukkan bahwa koil Andrion lebih superior daripada koil X itu , maka koil Andrion sekarang yg terpasang

Tentang busi, semula menggunakan NGK CR8EGP Platinum yg sudah banyak digunakan oleh teman2 pengguna Pulsar karna performa yg oke, dan sekarang lagi mencoba gimana performa CR8EIX Iridium

Tentang air filter Element Protec, ini part yg paling sedikit pengaruhnya terhadap performa Pulsarnya om Torry, karna karbu karakter karbu vakum standar Pulsar yg paling pas bersanding dengan busa elemen filter udara standar. Jadi penggunaan air filter elemen Protec ini sebenarnya tidak terlalu perlu.

Tentang Knalpot, sebenarnya knalpot Abbys ini dipesan utk spec mesin modifan mas Londo TRB (bengkel modif mesin langganan rekan rekan prides) yaitu : Port ‘n’ Polished dan modified camshaft low compression, atau yg dikenal dengan “modifan paket S-1” di kalangan teman2 customer Trb Jogja. Memang rencananya si SS2 akan menjalani modifikasi S-1, jika waktu dan kesiapan dana memungkinkan.

Tentang Pilot Jet (PJ) Scorpio ukuran 17,5 (menggantikan PJ std P220 ukuran 15) dan Main Jet (PJ) Satria FU ukuran 125 (menggantikan MJ standar ukuran 115) adalah kombinasi ideal hasil jetting yg dilakukan oleh bro Dave Heaven (fb) atau yang dikenal sebagai David Arutemisha (juragan Norival) di Prides-online.com. Bro David juga melakukan settingan pilot screw sebanyak 2,3 putaran/bukaan. Setting dan jetting karbu ini menyesuaikan dengan kebutuhan mesin setelah menggunakan knalpot Abbys, dan sistem pengapian dengan koil Andrion.

Pada mesin si SS2 (silverstream two) juga terpasang piranti OBS (Oil Breather System) bikinan bro Faizzin Proleevo bersama mas Romi Pandawa. Peranti ini sudah terbukti mencegah terjadinya engine overheat, dengan menurunkan panas mesin sebanyak 23 drajat Celsius. Saat selesai Jamnas Prides Salatiga, si SS2 sempat mampir ke padepokan Trb di Jogja, dan sistem OBS dicek oleh mas Londo. Menurutnya, sistem OBS buatan mas Faiz/Romi itu sangat ideal dan memang sudah lama diterapkan oleh mas Londo, hanya saja menuruti saran mas Londo, ujung selang dari tabung oil breather sebaiknya tidak dimasukkan ke lobang box filter karena suhu hangat atau panas dari dalam slang bisa mengacaukan masukan udara ke box filter. Lebih baik ujung slang itu dibiarkan bebas di bawah jok belakang.

Om Torry juga cerita bahwa si SS2 sempat menjalani dynotest di Mototech Jogja, dengan hasil : 21.0 hp @ 8762 rpm dan 18.63 nm @ 7268 rpm. Hasil ini cukup menggembirakan, dengan referensi P220-nya bro Rial Hamsyah yg mencatat 19 koma sekian hp saat dynotest sebelum menjalani modif S-1 di padepokan Trb.

Namun dari grafik hasil dyno itu nampak adanya “jurang” dari rpm 4500 s/d 6000. Itu mengkonfirmasi keluhan rider bahwa pada rentang putaran mesin 4500 s/d 6000, tenaga mesin terasa “kosong”. Oleh karnanya, mas Londo membongkar karbu si SS2, dan ternyata posisi clip pada jarum skep karbu tidak bisa disetel naik/turun. Hal ini tidak membuat mas Londo menyerah, dia mengambil kaleng minuman, mengguntingnya menjadi bulatan kecl, lalu dipasang utk mengganjal clip itu.

Setelah itu dilakukan dynotest lagi, dan hasilnya peak power menjadi 20.9 hp (turun 0.1hp) tapi dengan grafik yg lebih datar pada rentang putaran mesin 4500 s/d 6000 rpm. Di dunia nyata, tenaga mesin pada rentang putaran mesin itu terasa lebih “nendang”.. Bravo Mas Londo.. Pulang dari Jogja menuju Jakarta, mengendarai si SS2 menjadi jauh lebih nikmat karna tenaga mesin yg lebih merata dari bawah sampai atas… Bro David Pangemanan yg menunggang P200 dan mas Agus Setiawan dengan KLX-nya menjadi saksi “keganasan” performa si SS2 sepanjang jalur Pantura dari Jogja sampai Cirebon dan Jakarta,

Singkat cerita setelah memakai SS2 selama seminggu, bagi speed freaks yang masih mencari cara gimana manaikkan peforma P220, spesifikasi diatas bisa dicoba aplikasikan di P220 kalian, akslerasi ok, speed putaran atasnya pun OK, dan tentunya irit.. hehehe

Apakah gw akan mengaplikasikan spesifikasi diatas ke Cindy? I love Cindy just the way she is now… so bagi gw yang standar standar aja yang penting bisa sampai tempat yang nan jauh disana…

11 thoughts on “Cindy Rehabilitation: One Week With SS2

  1. saya suka..”.so bagi gw yang standar standar aja yang penting bisa sampai tempat yang nan jauh disana…”

  2. wooow… rahasia daleman si SS2 sudah dibuka neh… jadinya akan banyak Pulsar std yg kencang juga.. si SS2 bukan lagi yg terkencang hehehehehe…. harus nambah senjata rahasia baru neh… hehe

    btw, mau share dng sesama pengguna motor, merek apapun, utk menjaga kondisi mesin selalu prima :

    – kalok pake premium, bisa dicoba dicampur Norival Fuel Treatment, performa mesin jadi lebih maknyus

    – setiap 2000-3000 km, tuangkan 20cc cairan Red Line Total Fuel System Cleaner

    – setiap 30.000 km mintalah mekanik utk membuka cylinder head mesin, melakukan pembersihan kerak dan skir klep

    – lakukan prosedur Italian Tuning setiap seminggu atau dua minggu sekali, yaitu : cari jalur yg memungkinkan, gaspol motor, ganti gigi pada rpm 8000-8500 sampai gigi terakhir, tetap pertahankan tingkat putaran mesin tinggi itu sejauh minimal 10 km pp, utk membakar kerak yg baru terbentuk (kalok kerak yg sudah lama menumpuk, hanya bisa dibersihkan oleh mekanik dng membuka cyl head)

    Semoga si Cindy segera sehat kembali ya mas…

  3. utk yg lebih serius, disarankan utk melakukan “modif ringan” pada daleman mesin :
    – modif camshaft dng spec low compression (tetap pake bbm premium)
    – port n polish cyl head dng ukuran sesuai spec cam dll
    – coak kepala piston

    utk yg blom puas juga, bisa melakukan bore-up dan stroke-up

    jika kedua tahap itu blom juga membuat puas, berarti sudah saatnya Anda mengganti motor anda dengan Kawasaki ER6

  4. wew… level ‘dewa’….. kalo udah kayak gini, irit mah gak dipeduliin lagi…. tapi kalo udah segitu masih bisa irit, hebaaddddd banget dah si Bajaj (atau mekaniknya nih🙂 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s