EastXpedition 2011: Day 15 – Mampir Kerumah Teman Baru

Ketika kami di Flores kami berkenalan dengan wisatawan asal Afrika Selatan, Desmon dan Keith. Kami pun mengikuti Komodo tournya Hotel Jayakarta.

Desmon sendiri sudah lama bekerja sebagai kameraman di Indonesia sejak tahun 1998, awalnya Ia ditugaskan oleh Reuters untuk meliput proses reformasi di Jakarta, dan sejak menginjakkan kaki di Indonesia ia langsung jatuh cinta dan memutuskan untuk tinggal disini. Sejak tahun 2005 Ia dan pasangannya (seorang wanita WNI) pindah dan tinggal di Bali, dimana Desmon bekerja sebagai fotografer/kameraman freelance, dan pasangannya bekerja sebagai guru Yoga.

Pada saat di Flores Desmon ceritanya memberi hadiah ulang tahun ke bapaknya dengan berlibur di Indonesia, Ia mengajak bapaknya ke Yogya, keliling Bali dan juga ke Flores. Selama di Flores kami pun cepat akrab karena mereka dan kita memiliki satu ketertarikan yakni travelling, terutama Keith dimana waktu muda dan hingga sekarang Ia memiliki hobi touring, bukan dengan motor namun dengan mobil. Ia pernah solo touring keliling benua Afrika dengan menggunakan mobil.

Nah sebelum kita berpisah di Flores, Desmon menawarkan kami untuk mampir ke rumahnya di Bali, yah sekedar ngebeer dan melepas lelah. Ketika di Ferry pun kami sudah sms-an menanyakan arah ke Desmon dan setelah makan siang di Tabanan akhirnya kami menyambangi rumahnya di daerah Karambitan, rumah yang terletak di tepi pantai Pesut ini memiiki arsitektur traditional khas jawa/bali rumah mirip pendopo ini Ia bangun secara dicicil selama 2 tahun dan sudah rampung sekitar 90%.

Melihat lokasinya kita merasa seperti berada di Paradise kita sendiri,  kita bisa mendengarkan deburan ombak dengan jelas, bayangkan setiap bangun pagi bisa mendengarkan deburan ombak, it’s like having your own little paradise. Desmon pun memilih untuk tinggal di lokasi ini karena dia memiliki hobi surfing, sehingga ia bisa melakukan hobinya kapan pun disini.

Ketika kami berada disana, Keith memperlihatkan foto fotonya ketika berlibur di flores yang telah dicetak, ia mencetak semua foto ketika ia liburan disini untuk ia perlihatkan ke teman temannya nanti ketika ia pulang ke Afrika selatan.

Setelah puas memperlihatkan foto fotonya Keith, Desmon mengajak tour keliling rumahnya, memperlihatkan koleksi kameranya, dan fasilitas rumahnya. Yang  menarik dari rumahnya adalah ia menggunakan sumber listrik dari batere, ya dengan batere yang 2 kali sehari di Charge selama 1 Jam dengan menggunakan genset.

Ia memutuskan untuk menggunakan sistem ini untuk memangkas biaya dan juga hemat energi, dia menuturkan jika dia berlangganan PLN biaya per bulan bisa mencapai 5juta sedangkan dengan menginvestasi sistem yang ia pakai ini setelah 2 tahun ia hanya akan mengeluarkan biaya 60ltr solar perbulan.

Desmon selain hobi surfing, ia pun sempat memiliki hobi bermotor, Ia memperlihatkan sebuah motor enduro merk Korea yang ia beli di sebuah importir umum di daerah Jakarta Selatan, namun sayang karena kesibukannya ia tidak sempat mengurus motornya itu, namun setelah bertemu kita ia terinspirasi untuk merestorasi ulang motornya itu, siapa tau jika kami ke Bali ia bisa ikutan riding bareng kita.

Tidak terasa sudah pukul 4 sore kami disana, dan saaatnya untuk pamit, mereka menawarkan untuk bermalam dulu namun kami tolak, karena saat di Lombok gw menerima  kabar untuk kembali ke Jakarta secepatnya untuk sebuah project. Thank you Desmon untuk menerima kita dan numpang istirahat, jika kami ke Bali kita akan mampir lagi. Dan thank you Keith atas cerita cerita dan pengalamannya yang telah di share ke kami, membuat kami semangat untuk melakukan hobi ini.

Setelah pamitan kami kami pun melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Gilimanuk, Jalur ke Gilimanuk sore ini cukup padat dan terkadang kami harus mengeluarkan ekstra energi untuk menyalip bis dan truk yang padat di jalur ini. Jam 7 malam wita kami pun sudah di Ferry untuk menyebrang ke Jawa.

Setelah mendarat di Ketepang kami langsung bergerak dengan target Paiton, ya kalau bisa kita menginap di Paiton, dari Ketapang melewati jalur hutan Baluran kami lewati dengan mulus dan sunyi senyap, aroma spooky masih terasa di hutan Baluran, namun karena riding berdua sehingga tidak terlalu merasa was was.

Hingga sebelum masuk kota Situbondo perjalanan sangat lancar dan tanpa kendala, namun ketika masuk kota Situbondo pada pukul 9 malam, Romi menyatakan dia sudah berasa ngantuk banget, akhirnya kita memutuskan untuk bermalam di batas kota keluar kota Situbondo.

Saatnya istirahat, besok kita lanjut jalan sampai Bandung…

5 thoughts on “EastXpedition 2011: Day 15 – Mampir Kerumah Teman Baru

  1. @ Donald:
    Donald Manoch??
    sorry sob, pertengahan tahun perjalanan di flores gw kena badai di laut komodo, hp gw basah n matot..so gw ilang semua kontak..gw sempet kbingungan jg mo kontak2 temen di kota yg kita lewatin..
    sorry ya nald🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s